Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mahasiswa UNS Meninggal Usai Ikut Diksar Menwa, Lantas Organisasinya Harus Dibubarkan?

Menwa

「Assalamualaikum」- Tulisan ini dibuat sebagai Respon Terhadap Seruan Pembubaran Menwa yang terlalu dini disampaikan kepada publik

Penulis : Bambang S., SH
NBP : 16 96 30 00122
Alumni Menwa Indonesia

Innalillahi Wa Innailahi Roji'un, Tak ada kuasa yang mampu membendung kuasa Tuhan.

Atas nama pribadi turut berduka cita atas meninggalnya salah seorang Mahasiswa UNS

Beberapa hari terakhir media pemberitaan dan media sosial dihebohkan dengan meninggalnya salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo pada tanggal 24 Oktober 2021 Gilang Endi Saputra (21 Tahun) pada saat mengikuti kegiatan Resimen Mahasiswa yang rencananya berlangsung 23-31 Oktober 2021.

Sebuah musibah yang mencoreng nama baik Organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa) tak dapat di elakkan, kejadian seperti ini tidak hanya baru kali ini terjadi. Tindakan di luar kendali dan tidak terukur menjadi dugaan sementara.

Bukan hanya organisasi Menwa yang pernah mengabarkan hal buruk dalam perekrutannya, beberapa organisasi besar di lingkungan kampus pun pernah ada yang mengalami hal yang sama.

Belum meratanya pembaharuan paradigma Menwa di beberapa satuan atau kampus yang menjadi penyebab tingkat kekerasan masih berlaku dan menjadi tradisi. Saya pribadi sebagai alumni pun paham dan pernah mengalami kekerasan seperti pukulan pada daerah tertentu saat mengikuti Pendidikan dan Latihan. Lebam dan memar seperti menjadi hal biasa yang akan dialami, panitia dan senior telah memberikan pemahaman bahwa akan ada tindakan terukur.

Kondisi yang kurang prima dan mengidap penyakit bawaan menjadi satu dari sekian kemungkinan seorang peserta meninggal saat mengikuti kegiatan fisik. Ditambah lagi adanya aksi balas dendam dari oknum senior kepada adik angkatannya.

Bahkan di salah satu Organisasi Kemahasiswaan dalam perekrutannya mengundang senior bahkan alumni untuk memberikan ucapan selamat datang berupa tindakan fisik. memang tidak semua bersikap keras. Namun tamparan menggunakan sendal tebal, tendangan ke bagian perut dan dada adalah hal yang tidak jarang terjadi.

Sudah menjadi rahasia umum jika Menwa masih menerapkan prinsip senioritas dalam organisasinya, sopan santun dan menghormati yang lebih dulu masuk ke dalam Organisasi Menwa adalah doktrin utama. Juga tindakan terukur atau tindakan disiplin yang diberikan kepada anggota ketika melakukan kesalahan pun berlaku di Organisasi ini.

Seperti diberitakan beberapa media berita bahwa Adik GE meninggal karena tindakan kekerasan yang dialaminya, namun sumber lain menyebutkan akibat kelelahan. Hingga hari ini pihak kepolisian sebagai pihak yang berwenang belum memberikan hasil penyelidikannya, namun status perkara telah ditingkatkan menjadi penyidikan.

Pemberitaan menyebutkan bahwa sebagian kalangan mahasiswa menyerukan agar organisasi dibubarkan saja. Dengan dalil meninggalnya salah seorang peserta organisasi saat pendidikan dasar.

Dalam video berikut aksi di depan UNS, masa menyuarakan agar Menwa di bubarkan


Lalu bagaimana dengan organisasi lainnya yang pernah mengalami hal serupa? Takutkah kalian yang berkoar saat ini, yang belajarnya kemarin Online. Seniormu sudah pernah menyuarakan hal yang sama.

Andaikan seorang Menteri melakukan Korupsi dan para mahasiswa menyuarakan untuk membubarkan Kementerian yang bersangkutan. Terkesan lucu, tapi Abdurrahman Wahid pernah melakukan hal itu dengan dibubarkan 2 Departemen/kementerian di zamannya karena terdapat begitu banyak aktifitas Korup di lembaga tersebut.

Ketika banyak orang yang meninggal di rumah sakit lantas Rumah Sakit dibubarkan, sebuah konsep pemikiran yang kurang logis. Mengenai kekerasan, sepertinya organisasi negara yang juga hidup di negeri ini tidak lepas dari yang namanya kekerasan dan berujung meninggal dunia. Bukan opini semata, tapi memang begitu adanya

Seperti 'anjing menggonggong kafilah berlalu', manusia cengeng yang hanya berkoar-koar ketika melihat satu masalah yang timbul ke permukaan. Tapi diam dengan prestasi yang pernah di torehkan 8atau pencapaian terbaik yang pernah diberikan kepada kampus.

Ada apa dengan Menwa? Terlalu kerenkah mereka? Sehingga menjadi pusat perhatian dikala berbuat salah. Benarlah sudah kata pepatah 'kalah di caci, menang tidak dipuji'.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang bergelar Doktor dan juga sebagai pengajar di salah satu kampus swasta di Jakarta yang mengikuti Diksar Menwa pada saat sudah menyandang Gelar Doktoral dan berstatus sebagai Dosen di Tahun 2016. 

Pesan saya untuk adik-adik Menwa di seluruh Indonesia khususnya Adik dan rekan-rekan Menwa Satuan Jagal Abilawa UNS dan juga tidak mengurangi rasa hormat kepada rekan dan senior Resimen Mahadipa Jawa Tengah.

Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, kedepankan jiwa kesatria. Tetap semangat, rekan dan seniormu tidak akan meninggalkan kalian di saat kondisi seperti ini.

Ikutilah seluruh proses hukum yang akan timbul, Senior kita tidak pernah memberikan doktrin pengecut. Jangan pernah mencari masalah dan jangan lari ketika bermasalah

Perbaiki konsep pendidikan dan latihan ke arah yang lebih baik, sesuaikan paradigma organisasi dengan situasi masa kini. Lemah bukan berarti buruk, menyerah bukan berarti kalah.

Widya Castrena Dharma Siddha

3 komentar untuk "Mahasiswa UNS Meninggal Usai Ikut Diksar Menwa, Lantas Organisasinya Harus Dibubarkan?"

  1. WCDS...
    Loyalitas tiada batas, meski kondisi kita saat ini penuh dengan keterbatasan...
    Tetap semangat adek adek Menwa UNS, kalian tidak akan pernah berjalan sendiri, Menwa seluruh Indonesia bersama kalian...
    Tidak ada yg bisa bubarkan Menwa kecuali kita sendiri yg memilih untuk Bubar...
    KOMANDO...

    BalasHapus
  2. WCDS ... Tetap semangat...masalah ada untuk dihadapi...dan harus berani bertanggung jawab bila bersalah...tetap fokus dan konsisten...MENWA...!!!!!!

    BalasHapus
  3. WCDS.....Menwa...salam senior tanpabatas sabar sabar dan sabar kitatetap satu membela NKRI.....dan menyotop faham komunis dan radikal.....

    BalasHapus