Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Akankah Kuliah Kedokteran Menjadi Jawaban Atas Prasangka Beberapa Orang?

Stetoskop

「Assalamualaikum」-  Halo jo, kali ini penulis jokkajo.com ingin berbagi sedikit cerita yang sering dialami dan mungkin sempat saya pikirkan untuk di iyakan.

Apa yang ada dibayanganmu ketika membaca judul tulisan ini?

Sedikit menggelitik memang, tapi tahukah kamu bahwa saya pernah berpikir kenapa tidak saya iyakan saja apa yang menjadi prasangka beberapa orang yang saya temui pada kondisi tertentu.

Sebelumnya saya perlu memberikan sebuah pengakuan, bahwa saya adalah penulis JokkaJo.Com dengan latar belakang pendidikan Ilmu Hukum, Qadarullah saya sudah berhasil menyelesaikannya dan disematkan gelar Sarjana Hukum setelah nama saya.

Kaitannya dengan judul tulisan memang sangat kontradiksi, bagaimana bisa seorang berstatus Sarjana Hukum memikirkan untuk menjadi Dokter sedangkan usia tidak umum untuk memulai pendidikan kedokteran. Pada umumnya mahasiswa baru pendidikan dokter berusia rata-rata 18 - 20 tahun yang kemudian bisa menyelesaikan pendidikannya di usia sekitar 23 - 25 Tahun.

Usia saya saat membuat tulisan ini adalah 26 Tahun, terkesan membuatkan sebuah cerita komedi untuk diri sendiri.

Saya sadari pendidikan Menengah Atas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memberikan dorongan untuk lebih menyukai bidang medis atau hal-hal tentang kesehatan.

Sebenarnya tidak salah jika saya sedikit paham dan suka dengan dunia kesehatan, karena memang setiap orang wajib paham untuk memberikan perhatian terhadap diri sendiri khususnya dalam menjaga kesehatan.

Sebab pemilihan judul

Pada tahun 2019 saya pernah memeriksakan ke dokter Gigi di Rumah Sakit Daerah, karena gigi M1 kiri bawah dan gigi M3 Kanan bawah yang sudah harus di cabut

Ternyata di RS tersebut hanya bisa mencabut gigi M1 saya yang sudah berlubang, sedangkan gigi M3 tidak bisa ditangani secara langsung karena terjadi Impaksi atau proses tumbuh gigi yang tidak normal, sehingganya harus dilakukan bedah ringan untuk mencabut gigi M3 dan tidak bisa dilakukan di RS tersebut.

Di sela-sela proses penanganan oleh Dokter Gigi dan Perawat Gigi, tenaga medis ini sempat menanyakan apakah saya orang kesehatan, perawat satunya lagi malah sempat menyangka rekan sejawat 

"Jangan-jangan masnya Rekan Sejawat yah" ucapnya sambil menyiapkan suntikan anestesi lokal.

Saya hanya tertawa mendengar ucapan tersebut yang mengira saya adalah rekan sejawat dibidang kesehatan, sedikit menggumam dalam batin sejak kapan disiplin ilmu hukum bisa menjadi rekan sejawat dalam bidang medis.

Dengan nada merintih sebab lidah sudah mulai merasakan kebal karena suntikan Blok saya membalas dengan bercanda "alasannya apa sus?" Tanya saya.

"Tidak semua pasien paham istilah medis, apalagi persoalan gigi dan mulut" jawab Dokter gigi yang saya lupa namanya itu.

Inti dari percakapan itu para tenaga medis yang menangani saya berpikir bahwa pasiennya ini adalah orang kesehatan, dengan dasar beberapa istilah medis yang saya ketahui. Sedikit 'guyonan' tapi itulah yang terjadi.

Minggu berikutnya saya disarankan teman untuk mencabut gigi M3 kategori Impaksi pada salah satu Dokter Gigi yang bertugas di Rumah Sakit Bantuan (Rumkitban) Angkatan Darat di daerah saya.

Diawal pembicaraan di ruang tersebut beliau menanyakan gigi yang mana yang akan di cabut, tentunya sebelum itu saya sudah menyampaikan maksud kedatangan.

"Gigi M3 kanan bawah berlubang terus posisinya Impaksi dok.." jawab saya

Dokter terlihat kaget mendengar jawaban saya, lantas bertanya "Mahasiswa kesehatan dari kampus mana?.." sambil melihat gigi yang saya sebutkan.

Sudah kali kedua saya disangka sebagai orang kesehatan, apakah saya harus mengiyakan? Haha sudahlah itu hanya persangkaan yang kebetulan.

Bulan berikutnya saya melakukan scalling  atau pembersihan gigi dari karang gigi yang menempel, lagi dan lagi saya disangka rekan sejawatnya. Astaga, terlalu cepat memberikan penilaian. Yasudahlah, saya anggap itu adalah Doa untuk saya.

Saat membuat tulisan ini saya sedang berada di Rumah Sakit menjaga orang tua yang tengah mendapat perawatan, sepertinya sangkaan saya adalah tenaga medis masih belum berakhir.

Kali ini perawat yang baru saja membersihkan luka DM yang ada si kaki orang tua saya, lantas bertanya langsung kepada saya, "Kamu juga perawat? Atau masih Kuliah?" Ucapnya dengan sedikit rasa penasaran.

Entah apa yang membuatnya berpikir bahwa saya adalah perawat atau mahasiswa keperawatan, padahal saya hanya berdiri melihatnya bekerja dan menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan seputar luka DM tersebut.

"Saya mahasiswa hukum sus, Alhamdulillah sudah selesai" jawab saya sambil tertawa.

Terlalu dini memberikan kesimpulan lewat percakapan singkat, sepertinya harus di iyakan apa yang menjadi sangkaannya itu.

Melansir dari beberapa situs yang menyebutkan bahwa batas umur kuliah kedokteran adalah sekitar 32 tahun, ditambah lagi terdapat sebuat kisah tentara amerika serikat Mike Moree berpangkat Mayor yang berhasil mendapat gelar kedokterannya di usia 50an Tahun.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, saya pun tak tahu nasib dan takdir saya akan kemana. Terus Ikhlas dan Ridho menjalani skenario Tuhan yang sangat sempurna.

Kuliah Kedokteran atau tidak itu hanya sekedar pemanis cerita.
Terima kasih sudah membaca di JokkaJo.Com


Jokka Jo
Jokka Jo [Saya penulis pemula dari Sulawesi-Indonesia yang bermimpi dapat menebar manfaat lewat tulisan]- [Tetap sehat dan jangan gila]•• [Berbagilah untuk hidup, hiduplah untuk berbagi]••

2 komentar untuk "Akankah Kuliah Kedokteran Menjadi Jawaban Atas Prasangka Beberapa Orang?"

jokkajo